Course Review: Strategi untuk Eksekusi GAME

Saya adalah salah satu dari 4 orang yang memiliki international certificate of DX. Dari ke-4 orang tersebut, saya merupakan satu-satunya yang fokus pada eksekusi GAME. Dimana dengan GAME ini, diharapkan Anda bisa memahami, dan mengimplementasikannya dalam hal eksekusi.

Materi yang akan saya bahas kali ini yaitu mengenai GAME, yang terdiri dari GAME 1, GAME 2, GAME 3, dan juga GAME 4. Dimana dalam materi ini terdiri dari pembahasan mengenai Fokus. Dimana dalam pembahasan mengenai fokus tersebut akan dijelaskan  mengenai bagaimana cara membuat Most Important Goal (MIG), membuat Predictive Measure (PM), scoreboard, serta cara untuk memberdayakan tim (empowerment).

Metodologi mengenai eksekusi GAME ini ditujukan bagi setiap Manager dan juga supervisor yang memiliki bawahan (frontliner). Bisa dibilang, materi ini sangat powerfull, karena memiliki revenue, khususnya bagi setiap frontliner. Saya Boedi Santoso, ikuti kelas saya di Codemi Learning Hub.

Pendahuluan Strategi untuk Eksekusi GAME

Dalam setiap kelas Strategi untuk Eksekusi GAME yang saya selenggarakan, biasanya saya akan memberikan satu pertanyaan. Dimana pertanyaan tersebut salah satunya yaitu, mengenai apa goal Anda di tahun ini, yang tak lain di tahun 2019 ini? Faktanya, dari total audiens, 90% diantaranya memberikan jawaban yang kurang tepat, dan terbukti gagal dalam tes tersebut.

1. Fakta-Fakta Eksekusi

Seperti yang telah disebutkan diatas, bahwa dari total audiens yang mengikuti kelas eksekusi GAME yang saya selenggarakan, 90% diantaranya terbukti gagal dalam tes tersebut. Hal ini bisa terlihat saat mereka menulis jawaban, kemudian membacanya kembali secara bersamaan.

Dalam kesempatan itu pula, banyak yang bertanya dan juga meminta feedback dari saya. Pada umumnya, mereka bertanya, mengapa mereka bisa gagal dalam tes tersebut. Beberapa contoh yang bisa saya temukan di test tersebut yaitu:

  • Saat seseorang menyebutkan bahwa goal mereka di tahun 2019 tersebut yaitu bahagia dunia akhirat. Bisa dibilang, goal tersebut sangat luas maknanya, dan tidak bisa diukur. Bahkan bisa dikatakan, kebahagiaan yang Anda rasakan, pastinya akan berbeda dengan yang dirasakan oleh orang lain
  • Contoh lainnya yaitu saat seseorang menyebutkan bahwa goal yang ingin dicapai di tahun tersebut adalah umroh bersama keluarga. Mereka tidak menyebutkan anggaran biaya yang diperlukan, serta dengan siapa mereka akan berangkat, dan kapan umroh tersebut akan dilaksanakan

Dari kedua contoh tersebut bisa dikatakan bahwa dalam eksekusi fakta-fakta tersebut, 70% diantaranya bisa dianggap gagal. Karena tidak sesuai dengan fakta yang ada dalam sebuah organisasi/perusahaan.

2. Eksekusi GAME

Untuk menghindari lemahnya dalam melakukan eksekusi, saya memiliki metodologi khusus yang bisa dilakukan. Dengan kata lain, 70% gagalnya eksekusi bisa sedikit berkurang, bilamana Anda menerapkan metodologi ini.

Metodologi yang dimaksud dikenal dengan eksekusi GAME, atau GAME execution. Dimana GAME sendiri terdiri dari 4 huruf, yaitu G, A, M, dan E, yang meliputi:

  • Goal setting
  • Action setting (activity setting)
  • Monitoring spirit
  • Empowerment (pemberdayaan tim)

Program eksekusi GAME ini membutuhkan proses waktu yang cukup panjang. Bisa saja dilakukan dalam 3 bulan, 6 bulan, atau bahkan lebih. Hal ini dikarenakan, eksekusi GAME diharapkan bisa menjadi kebiasaan (habit), dalam mencapai sebuah goal (tujuan).

3. Mana yang Penting antara Strategi atau Eksekusi

Saat kita dihadapkan pada 2 hal pada kelas Strategi untuk Eksekusi GAME, yaitu strategi dan juga eksekusi, mungkin saja, Anda akan bertanya-tanya, mana yang lebih sulit dari keduanya? dan mana yang paling penting untuk dilakukan? Hal ini sebenarnya senada dengan sebuah ungkapan yang mengatakan bahwa sebagus apapun sebuah strategi dibuat, namun hal itu tidak akan berdampak apa-apa jika tidak dibarengi dengan sebuah eksekusi.

Dengan kata lain, eksekusi jauh lebih penting dibandingkan dengan strategi. Namun manakah yang paling sulit? Mungkin contoh berikut ini bisa sedikit membantu Anda. Diantaranya:

  • Saat audiens diberikan pertanyaan mengenai apa saja strategi untuk hidup sehat?  Semua audiens memiliki jawaban masing-masing mengenai hal itu. Ada yang mengatakan bahwa strategi hidup sehat adalah tidak merokok, mengkonsumsi sayuran, rajin olahraga, dan sebagainya. Namun saat ditanya, sudahkah Anda melakukan hal itu? Maka jawabannya ternyata tidak sama. Dengan kata lain, tidak semua orang bisa melakukan eksekusi, meskipun mereka telah mengetahui strateginya terlebih dahulu
  • Contoh kedua yaitu saat audiens ditanya mengenai kriteria dari semua leader seperti Lee Kuan Yew, Bung Karno, Obama, dan yang lain-lain, mereka memiliki jawaban yang berbeda-beda. Beberapa diantaranya menyebutkan bahwa semua leader tersebut adalah seorang visioner, tegas, berpikiran terbuka, dan yang lain-lain. Namun ada satu hal yang tidak mereka ketahui adalah bahwa selain kriteria tersebut, ada hal lainnya yang membuat mereka menjadi leader yang tangguh. Hal yang dimaksud yaitu result (hasil), yang berhubungan dengan eksekusi. Dengan kata lain, semua leader tersebut tidak akan dikenal jika mereka tidak memberikan hasil yang bagus

Baca Juga: Strategi Program Pengembangan Karyawan

Dari kedua contoh diatas bisa diketahui bahwa eksekusi jauh lebih sulit dibandingkan dengan membuat sebuah strategi. Meskipun demikian, ada 2 hal yang bisa mempengaruhi sebuah hasil (result), yang tak lain adalah sebagai berikut:

  • Hal-hal yang bisa dikendalikan (in control), dan 
  • Hal-hal yang jelas tidak bisa dikendalikan (uncontrol)

Untuk mencapai hasil yang baik, sebaiknya Anda fokus pada hal-hal yang bisa Anda kendalikan (in control) saja. Bukan hanya itu saja, dalam membuat sebuah strategi, ada 2 hal yang bisa mempengaruhinya. Antara lain:

  • Kebijakan, dan juga
  • Kebiasaan (habits)

Berbeda dengan strategi yang berdasarkan kebijakan, strategi yang dibuat berdasarkan habits (kebiasaan) biasanya membutuhkan waktu yang lumayan lama. Meskipun demikian, strategi berdasarkan kebiasaan ini umumnya jauh lebih penting dalam mencapai sebuah goal.

4. Yang Menggagalkan Eksekusi

Meskipun telah melakukan eksekusi, namun tak jarang, eksekusi tersebut gagal dilakukan, atau telah dilakukan, namun ternyata, hasilnya tidak sesuai yang diinginkan. Mengapa hal ini bisa terjadi apa yang membuat eksekusi tersebut menjadi gagal?

Pada umumnya, yang menggagalkan eksekusi adalah kesibukan sehari-hari. Dimana kesibukan ini diibaratkan sebagai tornado, yang bersifat urgent (mendesak) dan datang secara bertubi-tubi. Untuk mengatasinya, maka Anda perlu melakukan sejumlah aktivitas yang bersifat penting (important).

Bukan hanya itu saja, tornado juga biasanya datang dari atas. Sementara yang menjadi dampaknya, adalah semua yang ada di bawahnya. Dalam arti, yang menggagalkan eksekusi bisa saja berasal dari atasan. Sementara yang menjadi dampaknya adalah orang-orang yang ada di bawahnya, yang tak lain adalah frontliner

Misalnya saat pemegang saham dan owner meminta direktur utama untuk mengadakan meeting, dan direktur utama tersebut diminta untuk menyiapkan laporan dalam waktu 1 minggu misalnya. Maka direktur utama biasanya akan meminta bantuan direktur operasional, yang dilanjutkan ke General Manager, Manager, hingga ke Supervisor, dan terakhir frontliner.

Berbeda dengan tempo yang diberikan owner ke direktur utama yang memberikan waktu 1 minggu, maka pada frontliner, mungkin saja waktu yang diberikan hanya 1 hari saja. Sementara di keesokan harinya, ada sejumlah kontrak yang seharusnya ditandatangani oleh frontliner. Apa yang harus dilakukan oleh frontliner tersebut? 

Biasanya, atasannya akan meminta untuk membatalkan kontrak tersebut yang jelas-jelas akan mendatangkan profit bagi perusahaan, dan menyarankan untuk membuat laporan yang diminta. Dari contoh diatas bisa diketahui, bahwa tornado biasanya muncul dari atasan. Sementara yang menjadi dampaknya adalah bawahannya, yang tak lain adalah frontliner.

GAME 1 

Inti dari Strategi untuk Eksekusi GAME ini adalah untuk menggerakkan ke tengah (moving to middle). Apa sebenarnya yang harus digerakkan ke tengah ini? Sebagaimana diketahui, ada 3 kategori karyawan yang bekerja di sebuah organisasi/perusahaan. Diantaranya:

  • Kalangan high performance sebanyak 20%
  • Kalangan low performance sebanyak 20%, dan sisanya
  • Kalangan standar (potensial) sebanyak 60%

Dimana kalangan potensial ini bisa saja beralih menjadi kalangan high performance, maupun kalangan low performance. Sementara untuk menggerakkan kalangan potensial ke arah high performance, dan kalangan low performance menjadi kalangan potensial, maka diperlukan sebuah eksekusi GAME yang diantaranya dapat Anda lihat lebih lengkap pada kelas Strategi untuk Eksekusi GAME. Hanya di Codemi Learning Hub.

Berlangganan Newsletter

Jika anda tertarik mendapatkan update terkait learning management system, silahkan isi form berikut ini.

0 Comment

Leave Comment

Your email address will not be published, Required fields are marked





Related Article
Kezia Amalia

Materi kali ini membahas mengenai persiapan untuk menjadi pemimpin (leader), Siapkah Anda Menjadi Pemimpin. Pelatihan atau training menuntut kita u

Kezia Amalia

Materi yang akan saya bahas kali ini mengenai Mengembangkan Mindset Bisnis dengan Business Acumen. Dimana materi tersebut akan membahas mengenai pe