Mengenal Lebih Jauh Mengenai Social Intelligence

Kecerdasan adalah salah satu komponen penting dalam menunjang kesuksesan, mulai dari kemampuan hard skill serta social intelligence. Sehingga kecerdasan tidak hanya sebatas daya fikir atau keterampilan praktis di lapangan, juga keterampilan bersosialisasi. 

Manusia sebagai makhluk sosial tentunya berinteraksi dengan manusia lainnya, tidak terlepas bidang kerjanya seperti apa. Contohnya seorang tim IT pastinya tidak hanya mengurusi tentang teknologi atau jaringan saja. 

Dirinya juga dituntut untuk dapat mengomunikasikan hasil kerjanya, berkoordinasi dengan tim ahli lainnya, atau berinteraksi dengan atasannya. Kemampuan tersebut tentunya memerlukan kepekaan sosial tinggi agar interaksinya berjalan lancar. 

Keberhasilan sebuah tim dalam bekerja sama juga ditentukan dari kemampuan untuk berempati, interpersonal, serta saling memahami. Hal tersebut terkadang luput dan sering kurang diperhatikan, sehingga tidak jarang terjadi konflik antar pegawai. 

Memahami Lebih Jauh Tentang Social Intelligence

Upaya memahami perilaku manusia sudah coba dilakukan oleh ilmuwan sejak tahun 1900-an, mulai dari mengukur kecerdasan intelektual, hingga akhirnya berkembang multiple intellegence. Sosial intellegence sendiri merupakan salah satu perkembangannya. 

Kemampuan manusia berinteraksi dengan sesamanya tidak terlepas dari proses hidup itu sendiri. Ketidakmampuannya dalam memenuhi berbagai kebutuhannya sendiri mengharuskan mereka untuk saling membantu satu dengan lainnya. 

Kebutuhan tersebut melahirkan pembagian peran serta kesepakatan, sehingga tidak saling merugikan satu dengan lainnya. Kepekaan untuk saling memahami serta membagi peran sangat diperlukan, sehingga tercipta hubungan yang harmonis tanpa konflik. 

Fenomena tersebut coba dipahami oleh ilmuwan demi memperoleh pemahaman tentang perilaku manusia serta mengembangkannya dalam masyarakat. Karena tidak semua orang mampu bersikap baik dalam lingkungannya, contohnya seorang berandalan. 

Kemampuan manusia dalam bersosialisasi tersebut kemudian diteorikan pertama kali oleh Edward Thorndike pada tahun 1920. Dirinya menyatakan bahwa social intelligence itu mampu memahami dan bersikap bijak dalam hubungan antar manusia. 

Pandangan atau definisi antar ilmuwan berbeda – beda, bergantung sudut pandangnya masing – masing. Beberapa membatasi tidak sampai kemampuan bertindak, tetapi hanya memahami situasi lingkungan sosialnya saja. 

Ilmuwan seperti Daniel Goleman mencoba membedahnya dari sisi neuro sains, mendapatkan definisi yaitu social awarenes (kepekaan terhadap kondisi lingkungannya) dan fasilitas sosial (kemampuan membangun interaksi yang lancar serta efektif). 

Cara Mengembangkannya 

Daniel Goleman setelah meneliti berbagai fenomena sosial menemukan bahwa kecerdasan bersosial tidak diturunkan secara genetik. Melainkan berasal dari pengondisian, proses pendidikan, dan interaksi yang dilakukan setiap harinya. 

Temuan tersebut menunjukkan bahwa setiap orang dapat memiliki serta mengasah social intelligence-nya melalui berbagai cara. Berdasarkan komponen Daniel Goleman, Social Awareness dan Fasilitas Sosial, dapat diturunkan menjadi kegiatan berikut.

Mendengarkan atau Melihat Secara Seksama dan Mendetail

Salah satu kunci keberhasilan melihat atau memahami adalah dengan melakukan pengamatan terhadap sekitarnya. Begitu juga dengan keterampilan bersosialisasi, mengamati orang lain berinteraksi, bisa memberikan gambaran terhadapnya. 

Terbiasa mengamati kode – kode yang ada dalam lingkungan kerja bisa membuat suasana kerja semakin nyaman. Contohnya ketika sedang rapat namun pesertanya terlihat lesu, memberikan waktu istirahat sejenak mungkin bisa mengobati lesu mereka. 

Melatih Berempati dengan Orang Lain

Social awareness tidak hanya membicarakan tentang memahami atau mengamati lingkungan sekitarnya, namun juga ikut merasakannya. Mencoba mengubah sudut pandang tentunya bisa menjadi salah satu bentuk latihannya. 

Ketika melihat atau mendengar suatu cerita cobalah bertanya dan membayangkan, “ketika jadi dia bagaimana ya?”, semakin kongkrit bayangannya semakin baik empatinya. Kondisi tersebut akan membantu memudahkan memahami orang lain. 

Menghargai Berbagai Perbedaan

Setiap orang memiliki pendapat berbeda, contohnya pandangan politik atau gaya hidup. Tidak jarang bertentangan pendapat dengan rekan kerja tentang hal ini. Memahami ini sebagai sebuah hal yang natural merupakan salah satu langkah meningkatkan social intelligence.  

Mendengarkan Secara Aktif

Terkadang mendengar itu hal yang sulit dilakukan, bagaimana tidak setiap orang ingin dirinya sendiri untuk didengarkan. Sesekali cobalah untuk mendengarkan secara seksama, jangan langsung merespons. Pahami, hayati, dan barulah memberikan respons. 

Menghargai Orang Lain

Terkadang dunia kerja identik dengan target dan target, akibatnya terkadang proses tidak begitu diperhatikan. Sesekali cobalah mengubah sudut pandang dari prosesnya, dari situ akan belajar tentang menghargai orang lain. 

Dalam dunia kerja cerdas serta terampil saja tidaklah cukup untuk mendapatkan kesuksesan. Perlu social intelligence untuk membuat interaksi kerjanya semakin nyaman dan kerja sama tim semakin solid. 

Berlangganan Newsletter

Jika anda tertarik mendapatkan update terkait learning management system, silahkan isi form berikut ini.

1 Comment

    Leave Comment

    Your email address will not be published, Required fields are marked





    Related Article
    Codemi Publication

    Cara membangun emotional intelligence adalah pengetahuan wajib. Ini sangat penting baik ketika diterapkan di dunia kerja maupun dalam kehidupan seh

    Codemi Publication

    Pelamar baru harus paham apa itu proses screening calon karyawan ketika hendak melamar pekerjaan pada suatu perusahaan. Tindakan ini merupakan sele