Manajer Anda Juga Quiet Quitting

Angkatan kerja dari kalangan generasi Z tentu saja tidak asing dengan istilah quiet quitting atau diam-diam berhenti. Istilah ini mulai populer terutama di kalangan gen Z sejak pertengahan tahun 2022 lalu.

Apa yang seseorang mungkin lakukan ketika ia merasa kelelahan di tempat kerja? Atau merasa tidak mendapatkan keseimbangan antara kehidupan pribadi dan kehidupan kerja? Anda mungkin akan kehilangan motivasi di tempat kerja dan mulai bersikap pasif. 

Sikap diam-diam berhenti, meskipun istilah tersebut bukan berarti Anda benar-benar berhenti dari pekerjaan, bukan hanya dapat dirasakan oleh karyawan biasa. Bahkan, manajer juga tidak terbebas dari potensi sikap tersebut. 

Ketahui Tentang Apa Itu Quiet Quitting

Manajer yang kelelahan mengelola timnya namun tidak mendapatkan dukungan untuk sukses dalam pekerjaannya, biasanya juga akan diam-diam berhenti. Lantas, mengapa organisasi harus memperhatikan hal tersebut dan bagaimana caranya? Simak penjelasan berikut ini. 

Sebagian dari Anda mungkin belum begitu familiar dengan istilah yang kali ini kami bahas. Pada dasarnya, sikap diam-diam berhenti adalah bentuk perlawanan terhadap budaya serba cepat (hustle culture) di lingkungan kerja modern. 

Fenomena ini ramai dibicarakan di internet terutama oleh pekerja generasi Z. Gen Z secara umum memiliki perhatian lebih pada isu kesehatan mental yang mendapat tantangan berat dari budaya serba cepat (hustle culture). 

Menurut Investopedia, quiet quitting adalah tindakan atau sikap seseorang, terutama karyawan perusahaan, untuk melakukan persyaratan minimum di tempat kerjanya. Karyawan tidak menghabiskan lebih banyak waktu maupun tenaga selain yang benar-benar diperlukan. 

Baca Juga: Fenomena Quite Quitting pada Gen Z

Mereka tidak memiliki antusiasme terhadap pekerjaannya selain untuk menyelesaikan tugas secara apa adanya. Karyawan yang diam-diam berhenti memiliki motivasi rendah di tempat kerja mereka. 

Sedangkan The Guardian mendefinisikannya sebagai sikap atau prinsip karyawan di mana mereka hanya melakukan pekerjaan sesuai porsinya. Ini berarti karyawan hanya bekerja sesuai jam kerja serta alokasi pekerjaan sebagaimana yang disepakati ketika rekrutmen.

Melihat pengertian tersebut, dapat disimpulkan bahwa quiet quitting bertolak belakang dengan hustle culture yang mendorong karyawan untuk terus bekerja dengan porsi istirahat yang sebentar. Misalnya melakukan lembur atau bekerja di luar jobdescnya. 

Seseorang bersikap demikian untuk memperoleh keseimbangan antara kehidupan personal dan kehidupan kerja (work life balance). Fenomena ini terjadi akibat sejumlah penyebab, di antaranya:

  1. Karyawan tidak memperoleh pengakuan yang diharapkan dan kompensasi tambahan atas beban kerja yang dilimpahkan perusahaan. 
  2. Minimnya apresiasi dari sesama rekan maupun atasan.
  3. Lingkungan kerja yang tidak sehat (toxic). 
  4. Karyawan kelelahan akibat beban kerja tidak proporsional.
  5. Karyawan khawatir mendapatkan tambahan pekerjaan. 
  6. Karyawan merasa bosan dan tidak merasa berkembang di pekerjaannya. 
  7. Tidak memiliki cukup waktu luang untuk kehidupan pribadi. 
  8. Anggapan bahwa kerja kerasnya hanya menguntungkan perusahaan. 

Quiet Quitting Juga Terjadi pada Manajer

Fenomena sikap diam-diam berhenti di tempat kerja memberikan kekhawatiran bagi departemen HR. Bagaimana tidak, tindakan tersebut akan berdampak negatif pada tingkat produktivitas karyawan yang mana menjadi prioritas penting perusahaan. 

Artikel yang dirilis Harvard Business Review menyebutkan bahwa “Quiet quitting is about Bad Bosses, Not Bad Employees”. Tindakan diam-diam berhenti adalah tentang atasan yang buruk, bukan karyawan yang buruk. 

Profesional HR dari banyak perusahaan mengaku kesulitan untuk mendorong motivasi serta keterlibatan karyawan di tempat kerja. Padahal, manajemen memiliki andil besar atas motivasi dan keterlibatan karyawan selama bekerja di perusahaan. 

Ini menjadi tanggung jawab manajer untuk mengelola tim, mengatur tanggung jawab, merencanakan pekerjaan, mengendalikan sumber daya, sekaligus memimpin kelompok atau tim.

Baca Juga: 4 Formula Terbaik Manajer Menerima Feedback

Jika manajer gagal memenuhi tanggung jawab tersebut, maka dampaknya adalah menurunnya kemampuannya dalam membangun hubungan kerja yang positif dengan tim yang dipimpinnya. 

Kegagalan tersebut bisa terjadi akibat sejumlah faktor. Mulai dari kekurangan staff, terlalu banyak bekerja, terkuras tenaganya, kurang terlatih, hingga faktor krisis anggaran. Faktor-faktor penyebab kegagalan tersebut memicu manajer untuk quiet quitting

Manajer yang gagal menjalankan perannya secara maksimal memiliki potensi lebih besar untuk frustrasi atau burnout (kelelahan). 

Jika mereka merasa tidak mendapatkan dukungan maupun alat untuk sukses menjalankan peran dan fungsinya, manajer mungkin akan diam-diam berhenti. Ketika manajer bersikap seperti tidak peduli, karyawan akan berpikir, “mengapa saya harus peduli jika manajer tidak?”

Tidak ada organisasi yang secara sengaja mengecewakan manajemen mereka. Meski demikian, manajer tetap memiliki tekanan untuk memberikan hasil maksimal. Sayangnya, ini bisa memberikan efek buruk seperti stress dan kelelahan. 

Bagaimana Perusahaan Menghadapi Manajer yang Quiet Quitting?

Pertanyaan berikutnya adalah bagaimana organisasi menghadapi situasi di mana manajer mereka bertindak diam-diam berhenti? Untuk mengantisipasi atau menghadapi manajer yang bertindak demikian, perusahaan bisa memulai dari hal-hal berikut.

1. Memberikan Kompensasi

Manajer memiliki beban kerja yang tinggi sehingga tekanan di tempat kerja juga lebih besar. Bahkan gaji yang mereka terima terkadang tidak sepadan dengan tuntutan kerja yang harus mereka penuhi. 

Hal tersebut mungkin menjadi alasan tambahan mengapa manajer mulai quiet quitting. Memberikan kompensasi adalah salah satu cara termudah dan terbaik untuk menunjukkan kepedulian perusahaan kepada pihak manajerial. 

Kompensasi yang diberikan perusahaan adalah investasi berarti atas SDM yang dimiliki. Investasi ini akan bekerja efektif jika perusahaan tidak ingin m manajemen dan karyawan kehilangan antusiasme dalam pekerjaannya. 

2. Mensupport Well-being

Well-being dapat dapat didefinisikan sebagai keadaan bahagia, sejahtera, memiliki kepuasan tinggi, tingkat stress yang rendah, memiliki kesehatan fisik dan mental yang baik, serta kualitas hidup yang terjaga. 

Manajer dengan beban dan tuntutan kerja yang lebih besar perlu menjaga kesehatan serta kesejahteraan hidupnya. Untuk menghindarkan manajer dari quiet quitting, perusahaan perlu memenuhi kesejahteraan mereka.

Baca Juga: Apa itu Employee Wellness Program

Anda tidak akan menjumpai manajer yang frustrasi atau stress ketika memiliki tim yang tenang. Ketika manajer stress, orang-orang di sekitarnya akan merasakan dan terimbas energi negatif.

Sebaliknya, manajer yang sejahtera karena mendapatkan support atas well-being sesuai kebutuhan dapat melakukan pekerjaan secara optimal dan memberikan hasil terbaik. 

3. Berikan Pelatihan

Salah satu tanggung jawab manajerial adalah untuk mempersiapkan timnya agar mampu menunjukkan performa kerja lebih baik melalui program-program pengembangan para karyawan. 

Sementara manajer mengatur pelatihan untuk karyawan, hal yang sama juga perlu dilakukan perusahaan. Untuk mengantisipasi tindakan quiet quitting pada manajer, perusahaan perlu menyadari pentingnya pengembangan diri bagi manajer itu sendiri. 

Jika perusahaan ingin manajer memberikan hasil lebih baik saat ini dan di kemudian hari, maka memberikan pelatihan adalah cara terbaik yang dapat dilakukan. 

Perusahan perlu mempertimbangkan pelatihan apa yang sesuai kebutuhan manajer sekaligus berpeluang menunjang pekerjaannya. Ada sejumlah pelatihan atau training yang dapat diberikan. 

Misalnya pelatihan kelas, pelatihan online, pendampingan, pembinaan, dan lain sebagainya. Jangan lupa bahwa manajer juga perlu dukungan alat untuk melakukan pekerjaan mereka dengan baik. 

Manajer memiliki peran signifikan dalam mewujudkan keberhasilan organisasi. Di antara tanggung jawabnya yaitu membangun motivasi dan keterlibatan karyawan serta memastikan karyawan bekerja sesuai standar perusahaan. 

Manajer yang tidak mendapatkan dukungan sesuai kebutuhannya akan sulit mencapai kesuksesan. Untuk itu, penting bagi organisasi untuk mengevaluasi apa pemicu manajer quiet quitting dan memikirkan bagaimana cara mengatasinya.

Berlangganan Newsletter

Jika anda tertarik mendapatkan update terkait learning management system, silahkan isi form berikut ini.

0 Comment

Leave Comment

Your email address will not be published, Required fields are marked





Related Article

Ternyata hampir kebanyakan perusahaan startup tidak punya tim perekrutan dan development padahal ini memiliki posisi krusial. Memang proses perekru

Seseorang yang bekerja sebagai admin e-commerce tentunya membutuhkan rekomendasi skill dan kompetensi untuk posisi admin e-commerce yang mungkin be