Cara Menghindari Pengambilan Keputusan yang Buruk

Semua orang pasti ingin menghindari keputusan buruk namun sayangnya hal seperti ini sulit dihindari. Secara psikologis terdapat beberapa faktor utama mengapa individu tersebut salah dalam pengambilan keputusan.

Dua faktor tersebut adalah heuristics dan optimisme. Meskipun keduanya sangat penting dalam pengambilan keputusan, namun terlalu berlebih bisa menghasilkan sebaliknya. Jadi Anda perlu memahami konsep tersebut secara mendalam.

Pada dasarnya heuristics adalah kemampuan manusia untuk mempermudah pola pemikiran. Lebih sering disebut dengan mental shortcut, karena jika manusia memprediksi semua probabilitas tentu membutuhkan waktu lama.

Oleh karena itu secara bawah sadar otak akan menghilangkan beberapa aspek kurang krusial agar pengambilan respon dapat dipercepat. Cara tersebut sudah menjadi insting dan sering menghasilkan hal bagus.

Bagi sebagian orang memiliki sifat optimis memang bagus. Namun sayangnya optimisme dapat mempengaruhi objektivitas seseorang dalam mengambil respon. Jadi hasil pengamatan bisa berubah dari data yang didapatkan.

Optimis memang bagus untuk memacu psikologis agar mampu bekerja diluar kemampuan. Namun jika berbicara masalah statistik, optimisme justru akan menjadi beban dan berpotensi memberikan bencana pada anda.

Oleh karena itu pahami kedua konsep heuristics dan optimisme agar Anda tidak salah dalam melakukan pengambilan keputusan. Dengan pemahaman sederhana berikut ini akan memberikan insight berharga.

Menghindari Keputusan Buruk Akibat Mental Shortcut

Mental shortcut memang baik untuk mengambil keputusan dalam situasi fight or flight. Namun sayangnya pada praktik di kehidupan, hal tersebut kadang membuat seseorang terlalu ceroboh dalam pengambilan respon.

Agar tidak salah dalam mengambil tindakan tanpa membutuhkan waktu panjang seseorang perlu berlatih. Mengatur ulang stigma perlu dilakukan agar persepsi Anda dalam beberapa hal dapat diperbaiki.

Misalnya saja, Anda berencana melakukan investasi jangka panjang dengan estimasi bruto sebesar 150 persen. Tanpa berpikir panjang pasti kebanyakan orang langsung mengambilnya tanpa memperdulikan aspek lain.

Hal seperti keamanan, kenyamanan, kredibilitas, dan dampak jangka panjang sering disepelekan oleh seseorang. Apalagi jika berhubungan dengan profit tinggi dalam jangka panjang.

Jika Anda mudah tergiur oleh sebuah diskon misalnya, artinya persepsi heuristics perlu diperbaiki lagi. Lakukan kalkulasi berdasarkan data dan fakta. Apakah keputusan tersebut bermanfaat atau tidak.

Menimbang persentase baik dan buruk juga perlu dilakukan agar mampu menghindari keputusan buruk. Apabila Anda sering melakukan kalkulasi dari probabilitas keuntungan sebuah tindakan maka hal tersebut dapat menjadi kebiasaan.

Hasilnya heuristics perception Anda akan membaik dan lebih membantu saat pengambilan keputusan. Memang diperlukan usaha dan waktu untuk melatih agar kebiasaan bisa berubah.

Jadi Anda harus berkomitmen kuat agar perjalanan hidup menjadi lebih baik. Ingat, pengambilan keputusan dalam hidup seringkali hanya dapat sekali saja dilakukan. Setelah itu hanya dampak yang dapat dirasakan baik itu positif atau negatif.

Belajar mengatur persepsi heuristics juga dapat dilakukan dengan introspeksi diri. Dengan memahami bagaimana kesalahan yang pernah dilakukan seseorang bisa lebih mudah mengubah persepsinya terhadap pengambilan respon.

Apabila pernah mengalami kegagalan, selalu ambil pelajaran dari peristiwa tersebut. Agar kedepannya hal serupa tidak terjadi lagi dan memberikan kerugian besar. Aspek tersebut dapat diaplikasikan dan mengubah hidup anda.

Menghindari dengan Mengurangi Optimisme

Memiliki optimisme dalam hidup memang bagus secara psikologis. Namun jika ingin menghindari keputusan buruk, realisme adalah hal paling krusial. Data dan probabilitas adalah kunci agar seseorang mampu tepat mengambil respon.

Seseorang dapat berubah persepsinya saat melihat persentase positif. Misalnya potensi terjadinya penurunan profit investasi properti hanya sebesar 10 persen. Pasti individu tersebut tidak akan ragu dalam melakukan investasi.

Kemudian ditunjukkan data faktual bahwa probabilitas penurunan profit dalam investasi properti sebenarnya 45 persen. Individu yang telah memiliki optimisme dari data awal akan tetap memaksa melakukan investasi.

Sesuai prediksi, individu tadi akan mengalami kegagalan dalam investasinya. Inilah mengapa optimisme harus dihilangkan pada saat pengambilan keputusan. Sense of euphoric karena mengetahui semua akan baik-baik saja perlu dihilangkan.

Sebagai seorang profesional, seluruh pengambilan keputusan harus berdasarkan data dan fakta. Apabila Anda terlalu memaksakan diri dan mengambil leap of faith maka kejadian buruk sudah dapat diramalkan.

Seseorang yang melibatkan optimisme dalam pengambilan keputusan biasanya lebih bias terhadap data. Individu tersebut akan terlalu percaya bahwa tindakan yang diambil merupakan solusi terbaik tanpa menghiraukan opsi lainnya.

Apabila Anda memiliki pribadi optimis maka bisa memulai dengan mempelajari statistik. Pahami bahwa berapapun kecilnya persentase kegagalan, sesuatu tetap dapat terjadi dan berdampak buruk.

Apabila Anda memahami secara utuh prinsip heuristics dan optimisme maka proses pengambilan solusi akan lebih bijak. Jadi menghindari keputusan buruk sudah tertanam dalam bawah sadar dan mempercepat proses kognitif.

Berlangganan Newsletter

Jika anda tertarik mendapatkan update terkait learning management system, silahkan isi form berikut ini.

0 Comment

Leave Comment

Your email address will not be published, Required fields are marked





Related Article
Codemi Publication

Cara membangun emotional intelligence adalah pengetahuan wajib. Ini sangat penting baik ketika diterapkan di dunia kerja maupun dalam kehidupan seh

Codemi Publication

Pelamar baru harus paham apa itu proses screening calon karyawan ketika hendak melamar pekerjaan pada suatu perusahaan. Tindakan ini merupakan sele