Burnout: Penghambat Performansi Kerja yang Harus Ditangani

Baik buruk performansi kerja ditentukan oleh beberapa faktor, salah satunya adalah Job Burnout atau yang sering dikenal sebagai Burnout. Walaupun tidak termasuk diagnosa klinis, tetapi kondisi burnout tidak dapat diremehkan.

Apa itu Burnout?

Burnout adalah kondisi kelelahan mental, fisik, dan emosional. Kondisi ini disebabkan oleh keadaan stres yang dialami secara berlebihan atau berkepanjangan. Umumnya, stres yang menyebabkan burnout berasal dari pekerjaan, tetapi masalah-masalah di luar pekerjaan seperti gaya hidup, kepribadian, dan pola pikir juga dapat menambah tingkat keparahan.

Seringkali kondisi burnout tidak dianggap serius dan terlambat disadari sehingga kondisi ini dibiarkan tidak tertangani. Padahal, menurut penelitian Gorji (2011) kondisi burnout dapat berakibat pada penurunan performansi kerja. Bahkan apabila berlanjut burnout dapat mempengaruhi kesehatan fisik dan mental yang lebih serius.

Penyebab Burnout

Kondisi burnout merupakan hasil dari beragam faktor seperti di bawah ini.

  • Beban Kerja Tak Terkendali

Beban kerja yang terlalu banyak dan tidak sesuai kemampuan akan menyebabkan keputusasaan bagi karyawan. Selain itu, pekerjaan yang monoton dan kacau juga membuat kewalahan sehingga cepat jenuh dan lelah.

  • Harapan Pekerjaan yang Tidak Jelas

Harapan atasan yang kurang jelas terkait hasil pekerjaan dapat mengarah pada kondisi yang tidak nyaman di tempat kerja. Sehingga apabila karyawan tidak kunjung tahu apa yang seharusnya dilakukan, mereka akan merasa frustrasi dan lelah dengan pekerjaannya.

  • Perlakuan yang Tidak Adil

Bekerja dengan rekan kerja yang intimidatif, diremehkan, perlakuan favoritisme, kompensasi yang tidak adil, sampai penganiayaan merupakan perlakuan-perlakuan tidak adil yang membuat stres di tempat kerja.

  • Kurangnya Dukungan Sosial

Karyawan yang merasa terisolasi baik di tempat kerja maupun kehidupan pribadi cenderung untuk mengalami stres. Kondisi ini kemudian berkaitan dengan stres kerja yang dialami.

  • Ketidakseimbangan Antara Kehidupan Pribadi dan Pekerjaan

Ketika pekerjaan menyita begitu banyak waktu dan tenaga, maka tidak banyak energi yang tersisa untuk menghabiskan waktu bersama keluarga dan teman. Kurangnya waktu dan energi untuk kehidupan pribadi dapat membuat bosan dan jenuh terhadap pekerjaan.

Tanda dan Gejala

Burnout tentu tidak akan tertangani jika tidak dikenali terlebih dahulu. Berikut ini adalah tanda-tanda ketika seseorang mengalami burnout.

  • Kelelahan

Biasanya ketika mengalami burnout seseorang akan merasa sangat terkuras baik secara fisik maupun emosional. Merasa lelah sepanjang waktu, susah tidur/makan, dan memiliki keluhan fisik seperti pusing dan mual secara berkala. Selain itu, juga kerap merasa terjebak dan sendirian, serta merasa gagal.

  • Menarik Diri

Saat kejenuhan melanda, pekerjaan umumnya dipandang sebagai hal yang semakin membuat stress dan frustrasi. Sehingga orang yang mengalami burnout cenderung untuk menjauhkan diri dari segala aktivitas yang berkaitan dengan pekerjaan. Mereka juga biasanya tidak ingin didekati oleh rekan kerja atau atasannya.

  • Escape Fantasies

Escape fantasies adalah imajinasi untuk pergi dari situasi yang menekan dan tidak nyaman. Ini merupakan visualisasi yang muncul ketika berada dalam kondisi yang tidak ideal termasuk di tempat kerja.

  • Frustrasi dan Mudah Marah

Orang yang burnout biasanya menjadi lebih sensitif dan mudah marah. Hal ini dikarenakan munculnya perasaan sinis terhadap pekerjaan ataupun rekan kerja. Seringkali mereka mulai banyak mengkritik perihal situasi pekerjaan dan perilaku rekan kerjanya.

Pencegahan dan Penanganan Burnout

Pada kenyataannya, burnout yang bisa menyerang sewaktu-waktu tidak dapat dihindari oleh siapapun. Apabila Anda atau orang di sekitar Anda mengalami burnout, uraian berikut ini dapat menjadi solusi agar terlepas dari kondisi tersebut.

  • Evaluasi Target dan Cara Kerja

Lakukan evaluasi terhadap target atau goals pekerjaan yang menjadi sumber stress. Bila diperlukan, diskusikan dengan atasan atau supervisor agar mendapat solusi. Selain itu, mungkin perlu juga melakukan beberapa perubahan pada lingkungan kerja seperti rutinitas dalam bekerja, jam kerja dan istirahat, dan lain-lain.

  • Cari Dukungan sosial

Ketika mengalami burnout mulailah untuk mencari dukungan sosial dari orang-orang terdekat seperti rekan kerja, pasangan, keluarga, dan teman. Bila perlu, juga bisa mencoba untuk mencari pertolongan profesional apabila dirasa tidak ada yang dapat membantu.

  • Self-care

Self-care yang baik dapat menjadi strategi jitu dalam mengelola stres. Lakukan aktivitas relaksasi seperti meditasi, yoga, atau spa dan pijat. Selain itu, menekuni hobi, olahraga secara teratur, mengonsumsi makanan sehat, dan mengelola pola tidur akan sangat membantu kembali dari kondisi burnout. Tidak lupa, jadwalkan istirahat dan liburan secara berkala agar dapat menyegarkan pikiran.

Berlangganan Newsletter

Jika anda tertarik mendapatkan update terkait learning management system, silahkan isi form berikut ini.

0 Comment

Leave Comment

Your email address will not be published, Required fields are marked





Related Article
Faizatur Rachmadanti

Pandemi Covid-19 telah mengubah banyak sekali cara menjalani hidup termasuk bekerja. Banyak pekerjaan yang sebelumnya mengharuskan karyawan ke kant

Healthy work environment adalah lingkungan kerja yang sehat, baik secara jasmani maupun rohani. Di era pandemi seperti sekarang ini, Anda harus mem