LMS

4 Level Model Evaluasi Training Kirkpatrick, Perusahaan Wajib Tahu

Model evaluasi training Kirkpatrick 4 level adalah salah satu model yang populer dan banyak dipakai guna mengukur sejauh mana pengaruh suatu pelatihan terhadap seseorang atau dalam hal ini karyawan perusahaan. Saat mengadakan pelatihan, tentunya perusahaan ingin mendapatkan hasil terbaik dan maksimal dari kegiatan tersebut.

Untuk melihat sejauh mana pengaruh pelatihan terkait, biasanya sebuah company memakai metode tersendiri. Penjelasan kali ini level evaluasi yang dipakai adalah model Kirkpatrick. Kirkpatrick ialah seorang praktisi pendidikan sekaligus profesor emeritus dari University of Wisconsin. Selain sebagai profesor, Kirpatrik juga merupakan mantan presiden ASTD, organisasi untuk pelatihan dan pengembangan.

Penamaan model tersebut disamakan dengan penemunya yakni bernama lengkap Donald Kirkpatrick. Model penilaian ini sangat berpengaruh pada dunia evaluasi training. Sebelumnya, model evaluasi training Kirkpatrick ini ialah subjek penelitian disertasinya ketika mengambil pendidikan doktoral untuk meraih gelar Ph.D pada tahun 1954.

Gagasan Donald Kirkpatrick mengenai model evaluasi 4 level tersebut kemudian diperkenalkan kepada audiens lebih luas melalui artikel yang dimuat di US Training and Development Journal. Namun popularitas gagasan tersebut lebih dikenal lagi lewat bukunya sendiri berjudul Evaluating Training Programs. Berikut ini penjelasan mengenai 4 level evaluasi program pelatihan Kirkpatrick.

Level yang Pertama, Reaction (Reaksi)

Tingkatan terbawah pada model evaluasi training Kirkpatrick ialah reaksi atau reaction. Pada tingkatan pertama yaitu reaction, evaluasi dilakukan terhadap bagaimana partisipan training memberikan umpan balik pada kegiatan tersebut. Setiap company yang mengadakan pelatihan tentu berharap agar kegiatan tersebut memberikan pengaruh tersendiri bagi para pesertanya (trainee).

Pelatihan yang diberikan kepada peserta diharapkan mampu menjadikan mereka sebagai individu lebih berguna. Di samping itu, ini juga menilai sejauh mana training yang diberikan membantu para peserta atau karyawan dalam mengembangkan diri mereka melalui berbagai skill dan kemampuan. Mengukur reaksi karyawan yang terlibat dalam pelatihan sangat penting.

Hasil peninjauan dengan metode model evaluasi training Kirkpatrick tersebut kemudian dapat dijadikan referensi di masa mendatang. Dijadikan referensi dalam arti kata dapat menjadi acuan untuk melakukan berbagai perbaikan di sana-sini. Setiap kegiatan tentu memiliki kekurangan. Dengan mengevaluasi, hasilnya dapat dimanfaatkan untuk menutup kekurangan-kekurangan tersebut.

Harapannya tentu saja agar kegiatan training di masa mendatang menjadi lebih baik. Memang membutuhkan waktu serta proses tersendiri untuk mendapatkan formula paling pas dalam memberikan berbagai materi pembelajaran. Akan tetapi, dengan adanya penilaian memakai model ciptaan Kirkpatrick tersebut, setidaknya perusahaan bisa terbantu dalam menyusun materi.

Tidak hanya materi saja, tetapi reaksi audiens juga mencakup performa instruktur, topik pembahasan, presentasi, hingga lokasi diadakannya training. Memberikan penilaian lebih luas terhadap reaksi audiens atau peserta dari segala sisi akan membuat tim lebih jeli dalam membuat pelatihan yang akan datang sehingga kegiatan tersebut bisa lebih efektif.

Level yang Kedua, Learning (Pembelajaran)

Berikutnya model evaluasi training Kirkpatrick mengevaluasi hal-hal yang para partisipan pelajari selama kegiatan berlangsung. Penting sekali melakukan pengamatan serta penilaian terhadap seberapa jauh peserta training menangkap dan juga memahami materi yang telah diberikan oleh instruktur. Bahkan peserta yang mendapatkan wawasan baru dari materi pembelajaran juga menjadi ukuran penilaian.

Sebelum mengadakan kegiatan pelatihan, sangat disarankan untuk menyusun daftar tujuan pembelajaran. Tujuan pembelajaran tersebut kemudian dijadikan sebagai standar nilainya dan menjadi poin awal dalam memberikan penilaian. Penilaian hasil pembelajaran tidak hanya bisa diukur dari satu sisi. Tetapi mencakup banyak aspek seperti perubahan pengetahuan, keterampilan, hingga perilaku serta sikapnya.

Tingkatan kedua dalam model evaluasi training Kirkpatrick ini menyarankan agar tim melakukan penilaian secara cermat. Ini berkaitan dengan efektivitas materi dan juga instruktur yang memberikan materi pembelajaran. Apabila hasil analisis dari penilaian pembelajaran tersebut tidak sesuai harapan, maka ini dapat dijadikan pelajaran agar dapat memperbaiki kegiatan pelatihan yang akan datang.

Hasil evaluasi dari training yang baru saja berjalan dapat digunakan sebagai bahan penyusunan materi pada training mendatang. Sehingga pelatihan bisa berjalan lebih efektif dan juga tepat sasaran. Salah satu cara terbaik dan strategis untuk mengevaluasi pembelajaran adalah dengan memberikan pretest (tes sebelum training) dan post test (tes sesudah pelatihan).

Level yang Ketiga, Behaviour (Perilaku)

Level ketiga dalam model evaluasi training Kirkpatrick adalah melakukan penilaian terhadap sikap serta perilaku peserta. Disini tim yang diberikan mandat penanggung jawab pelatihan harus menilai sejauh mana perkembangan sikap serta perilaku para audiens setelah mendapatkan materi pembelajaran dalam training tersebut.

Namun patut diperhatikan juga bahwa perubahan sikap maupun perilaku juga dipengaruhi oleh bagaimana kondisi lingkungan dimana peserta berada. Pada beberapa kasus ada kemungkinan perubahan perilaku maupun sikap tadi tidak terdeteksi sehingga dianggap gagal. Padahal penyebab utamanya adalah karena kedua level sebelumnya belum diaplikasikan secara tepat.

Di samping itu, dalam model evaluasi training Kirkpatrick pada level ketiga, apabila tidak terlihat perubahan sikap dan perilaku pada seseorang belum tentu training tersebut gagal. Akan tetapi terkadang terdapat penyebab lain yang memungkinkan. Misalnya, seorang karyawan baru kurang leluasa dalam mengekspresikan kemampuan dan skill yang ia peroleh.

Ini berarti tidak adanya perubahan sikap maupun perilaku disebabkan oleh tekanan dari lingkungan sekitar, bisa dari atasan maupun karyawan senior sehingga kemampuannya tidak tampak. Atau bisa juga karena tidak adanya keinginan atau niat peserta dalam menunjukkan perubahan sikap serta perilaku tersebut padahal ia mampu menyerap materi pembelajaran.

Untuk dapat melakukan evaluasi, ada baiknya tim manajemen training mencatat perilaku peserta sebelum pelatihan. Kemudian bandingkan ketika sesudah pelatihan. Dari sini dapat diketahui sejauh mana peserta/karyawan sudah berkembang. Kegiatan yang dapat dilakukan sebagai langkah evaluasi di tahap behaviour misalnya kemampuan dalam negosiasi, kemampuan menjual barang, dan sebagainya.

Level yang Keempat, Result (Hasil)

Tingkatan teratas pada model evaluasi training Kirkpatrick yaitu mengevaluasi secara keseluruhan. Di tahap akhir ini tim evaluator dapat melakukan analisis serta pengukuran. Pengukuran pada tingkat terakhir ini menggambarkan bahwa perusahaan akan menunjukkan kinerja yang baik. Tidak hanya bagi perusahaan juga yang baik.

Tetapi bukan hanya company saja yang mendapatkan manfaat, tetapi juga pihak karyawan. Selain kelangsungan usaha dan karyawan, semua yang terlibat di aktivitas pekerjaan di perusahaan tersebut tetap mendapatkan manfaat baik. Ini merupakan level tertinggi dalam model evaluasi program training.

Maka dari itu, untuk menilainya juga diperlukan cara maupun scope lebih besar. Kegiatan evaluasi yang dilakukan misalnya mengamati sekaligus mengevaluasi kinerja perusahaan dalam hal peningkatan penjualan. Perubahan terhadap efisiensi kerja dalam aktivitas bisnis juga menjadi catatan penting ketika mengevaluasi di level terakhir ini.

Untuk urusan pengelolaan training, perusahaan dapat memanfaatkan platform Learning Management System Codemi. Melalui platform Codemi, aktivitas pelatihan dapat dilakukan dengan cepat, mudah, serta praktis. Baik pengelolaan hingga penyimpanan dokumen-dokumen dapat disimpan rapi dan terpusat di Codemi. Kolaborasi codemi dengan model evaluasi training Kirkpatrick akan lebih maksimal hasilnya.

Berlangganan Newsletter

Jika anda tertarik mendapatkan update terkait learning management system, silahkan isi form berikut ini.

CEO of Codemi.

0 Comment

Leave Comment

Your email address will not be published, Required fields are marked





Related Article
Codemi

Berbagai metode pelatihan SDM telah dikembangkan, salah satunya adalah pengembangan metode pembelajaran blended learning. Hal ini dilakukan karena

Codemi

Manfaat learning management system atau LMS di era modern semakin dirasakan oleh banyak pihak, tidak terkecuali bagi perusahaan. Perkembangan tekno