3 Kesalahan HRD yang Menyebabkan Karyawan Resign

Fenomena karyawan resign sudah bukan menjadi hal yang aneh bagi sebuah dunia kerja. Bagi sebuah perusahaan, haruslah siap dengan berbagai konsekuensinya, mulai dari menyiapkan kembali proses rekruitment, serta membagi tanggungan berhentinya seorang karyawan. 

Bagi sebuah perusahaan, memiliki staf yang kompeten, berdedikasi tinggi, serta berkomitmen untuk ikut serta mengembangkan perusahaannya merupakan sebuah harapan. Namun terkadang untuk merekrut staf dengan karakteristik demikian memerlukan biaya tinggi. 

Sehingga langkah paling hemat adalah dengan merekrut calon potensial, kemudian memberikan lahan untuk mengembangkan kompetensinya. Namun terkadang calon potensial tersebut mengundurkan diri, sehingga menyebabkan sulitnya mendapatkan tenaga kerja berkualitas. 

Penyebab Karyawan Mengundurkan Diri Secara Umum

Salah satu penggerak untuk menjadikan sebuah perusahaan berkembang pesat adalah sumber daya manusianya. Beberapa perusahaan mungkin memiliki perangkat atau teknologi sama, tetapi perbedaan sumber daya manusianya, menyebabkan perbedaan perkembangannya. 

Adanya fenomena resign juga menjadi pukulan terhadap produktivitas, mengingat harus memulai kembali proses seleksi, training, serta orientasi bagi karyawan baru. Untuk menghindarinya, perlu memahami bagaimana seorang karyawan akhirnya memutuskan berhenti. 

Kurangnya Potensi Pengembangan Karier

Tidak menutup kemungkinan bahwa seorang karyawan tentunya menginginkan kesejahteraan, baik jangka pendek maupun jangka panjang. Awal memulai karier dengan beban tinggi namun bayaran standar mungkin masih tidak menjadi masalah. 

Akan tetapi, semakin bertambahnya usia, kemampuan fisik semakin melemah serta kebutuhan semakin tinggi. Tidak adanya potensi pengembangan karier tentunya akan menyulitkannya di masa mendatang. Karenanya terkadang memilih resign meski sudah bekerja cukup lama. 

Faktor Keluarga yang Mempengaruhi Performa

Setiap orang selain memiliki peran sebagai staf, juga memiliki beberapa peranan lainnya, salah satunya di lingkungan keluarga. Dalam keluarga besar, dirinya berperan sebagai anak yang berbakti, sedangkan dalam keluarga kecilnya mengharuskan menjadi tulang punggung. 

Karena suatu kondisi, misalkan ada anggota keluarga yang sakit, perlu dirawat intensif, serta mengganggu performa kerjanya, seorang karyawan biasanya akan memilih resign. Atau untuk wanita karier, ketika memiliki buah hati, biasanya memilih untuk berhenti bekerja. 

Faktor Kesehatan Jangka Panjang

Jam kerja tinggi serta rendahnya apresiasi terkadang mempengaruhi kesehatan karyawannya. Mulai dari kesehatan fisik maupun psikologis, bagi yang sudah menyadarinya biasanya akan memilih untuk mengundurkan diri. Bagi mereka kesehatan adalah investasi jangka panjang. 

3 Kesalahan HRD yang Menjadi Penyebab Karyawan Resign 

Selain pertimbangan internal, terkadang ada faktor eksternal yang menjadi penyebab seseorang mengundurkan diri. Salah satunya adalah perilaku dari seorang HRD, meskipun niatnya baik, tetapi terkadang beberapa perilaku tersebut membebani karyawannya. 

Kurangnya Empati Terhadap Karyawan

Untuk memenuhi target sebuah perusahaannya atau tuntutan dari klien, terkadang seorang staf dituntut untuk mengerahkan segala kemampuannya. Bahkan tidak jarang menerapkan standar yang sama antar pagawainya, seperti mengharuskan lembur. 

Padahal apabila pegawai dilihat sebagai seorang individu, mereka memiliki kondisi berbeda – beda, mulai dari kondisi yang berkaitan dengan kompetensi hingga hal lainnya. Seorang HRD harus mampu berempati serta memberikan porsi dan penghargaan atas kinerja karyawannya. 

Mendorong untuk Serba Bisa

Terkadang tidak sedikit karyawan resign karena diberikan beban job yang sangat banyak serta beragam. Bahkan bidang kerjanya berbeda dari keahlian yang ditawarkannya. Sebenarnya baik membagikan job di luar zona nyaman dari karyawan untuk terus berkembang. 

Akan tetapi dalam memberikannya harus mempersiapkan secara matang terlebih dahulu. Seperti memberikan kesempatan mentorship, memberikan peluang belajar, mengikuti pelatihan, atau beban yang diberikan tidak langsung besar. 

Untuk keluar dari zona nyaman, seseorang perlu proses serta pembiasaan. Terlebih ketika diberikan tuntutan, haruslah menyesuaikan dengan tingkat keahliannya. Apabila tidak diberikan kesempatan adaptasi, karyawannya akan merasa seperti kerja serabutan. 

Kurang Memberikan Kesempatan untuk Berkreasi 

Salah satu fungsi manajemen adalah controling atau pengendalian antara kinerja dengan targetnya. Terkadang seorang atasan terlalu mengendalikan hingga ke hal – hal yang sifatnya teknis. Sehingga seorang pegawai akan merasa selalu diawasi. 

Fenomena tersebut dikenal sebagai mikro manajemen, efeknya adalah lambatnya seorang pegawai dalam mengambil tindakan, kurang inovatif, serta merasa kebebasannya dikekang. Cobalah memberikan sedikit kelonggaran, serta mendesain sistem kontrol yang lebih solutif. 

Keseimbangan antara tuntutan perusahaan dengan pelayanan terhadap karyawannya haruslah tetap dijaga. Seperti memberikan apresiasi, berempati, serta memberikan kesempatan berkembang. Dengan demikian fenomena karyawan resign dapat dikurangi. Simak juga ulasan kami mengenai cara menjaga kepuasan bekerja karyawan disini.

Berlangganan Newsletter

Jika anda tertarik mendapatkan update terkait learning management system, silahkan isi form berikut ini.

0 Comment

Leave Comment

Your email address will not be published, Required fields are marked





Related Article
Codemi Publication

Mengamati perusahaan besar, pasti ada kebijakan bahwa karyawan harus diberikan pelatihan. Baik kepada karyawan yang baru saja selesai mengikuti sel

Codemi Publication

Bagi seorang pemilik bisnis, tentunya harus memahami bagaimana mengelola karyawan milenial di era teknologi digital ini. Mengingat saat ini generas